Rabu, 18 April 2012

Soekarno Mendobrak Ball-Room


Soekarno Mendobrak Ball-Room

Soekarno seorang Proklamator, siswa sekolah dasarpun tahu, Soekarno singa mimbar, siapa yang berani berkata tidak dan yang tak kalah pentingnya adalah Soekarno juga seorang seniman.

Agak berbeda dengan tokoh-tokoh seangkatannya, dalam hal pergaulan, Bung Karno sama sekali tidak pernah berdansa ball-room. Satu-satunya tarian pergaulan Bung Karno adalah tari lenso dengan iringan musik berirama tetap: cha-cha. Bahkan, Bung Karno memiliki grup musik pengiring sendiri, yang terdiri atas anggota DKP (Detasemen Kawal Pribadi)… ya… pasukan pengawal presiden.

Mereka, di bawah komando Mangil, kebetulan memang bisa memainkan musik. Maka, dalam tugas mengawal BK bertugas ke mana pun, anggota DKP tidak pernah lupa membawa peralatan musik. Mereka harus siap seandainya di luar jadwal resmi, tiba-tiba Presidennya menghendaki ada acara ramah tamah ditambah selingan melantai. Itu salah satu kegemaran Bung Karno. Dia bisa dua-tiga jam nonstop melantai dengan berganti-ganti pasangan wanita.

Sempat, para pengiring mencoba mengubah irama musik, karena merasa bosan memainkan jenis musik dan lagu yang sama berjam-jam… bahkan bertahun-tahun selama mereka menjadi pengawal pribadi Bung Karno. Irama yang baru itu, menurut para pemusik, tetap enak jika dipakai melantai dan berlenso. Apa yang terjadi? Seketika Bung Karno pasti membentak tidak setuju, dan memerintahkan kembali ke irama semula. Beberapa saat berlalu, upaya mengganti irama masih dilakukan, sekali-dua. Respon Bung Karno? Sama, melotot dan memerintahkan kembali ke irama cha-cha. Sejak itu, mereka tak pernah lagi mengubah irama musik setiap mengiringi Bung Karno menari lenso.

Menurut ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko, hobinya menari lenso, pernah ditunjukkan secara ekstrem di Roma, Italia. Tersebutlah dalam suatu kunjungan, BK diundang seseorang yang terpandang di Roma, untuk dijamu di kediamannya pada malam hari. BK dan rombongan datang memenuhi undangan itu. Rombongan Bung Karno disambut hangat oleh tuan rumah. Suasana tampak megah. Semua tamu berbusana resmi, dengan para wanitanya bergaun panjang yang anggun.

Usai ramah-tamah, acara dilanjutkan makan-minum dalam suasana galmour ala Eropa. Tak lama setelah jamuan makan malam selesai, hadirin diajak ke ruang ball-room yang luas, lengkap dengan sekelompok pemusik yang segera mengalunkan irama waltz. Para tetamu, berpasang-pasangan, segera melantai dengan anggun, memutar ke kiri mengitari ruangan sesuai aturan berdansa ball-room. Saat itu, Bung Karno tetap duduk dan berbincang-bincang dengan tuan rumah.

Pengawal membatin, “Kali ini Bung Karno kena batunya. Terpaksa ia hanya duduk melihat orang-orang berdansa, sebab dia sendiri tidak bisa berdansa ball room.”

Bukan Bung Karno kalau tidak bikin kejutan. Selesai lagu pertama dimainkan, tiba-tiba Bung Karno berdiri dan memerintahkan protokol, pengawal pribadi, dan ajudan agar segera mengambil oper alat musik, dan memainkan irama cha-cha. Yang diperintah, segera menghambur ke arah grup musik, dan mengambil alih aneka instrumen musik, dan… mengalirlah lantunan nada-nada gembira berirama cha-cha.

Bung Karno? Ia segera melenso bersama tamu yang lain. Sampai acara selesai, musisi Italia tadi tidak pernah duduk kembali di kursinya. Irama waltz yang mereka mainkan, adalah lagu pertama dan terakhir. Selanjutnya, seniman seadanya itulah yang mengisi acara santai sampai bubar. Iramanya? Cha-cha… dan hanya cha-cha saja.

Bukan hanya PBB yang didobrak ball-room dirombak, dan jangan sebut Soekarno bila tidak mampu membuat lawannya terdiam dan termangu-mangu. Tapi disinilah rasa kagum kita sebagai suatu bangsa semakin mengalir deras.